|
|
| Please do never deny the Jewishness of Jesus | 23.21 |
|
komentar (0)
Filed under:
|
|

Who has the Spirit of antichrist? Those who deny that Jesus also was complete human, born into a Torah observant Jewish Family. Jesus was and will forever be a Jew.
Who has the Spirit of antichrist? Those who deny that Jesus also was complete human, born into a Torah observant Jewish Family. Jesus was and will forever be a Jew.
The followers of the anti-Messiah is not someone who do not believe in the Messiah. Its a Spirit that claims to be the Messiah, but is not. Its a false-Messiah, who also claims to be «Jesus».
2 John 1:7
Many deceivers, who do not acknowledge Jesus Christ as coming in the flesh, have gone out into the world. Any such person is the deceiver and the antichrist.
When we read this message from the Jewish Apostle John, we can see that the deceivers are not denying that there is a «Jesus Christ». They deny his humanity, that this man is coming in the flesh, a Jew, born in a Jewish family. If Jesus was not completely human, he could not have felt the pain of being rejected by his own family, his own people of the flesh.
Everything about Jesus from Nazareth is Jewish. He was born in a human family, presented in the Temple in Jerusalem, circumcised, he up held the Sabbath, taught in Synagogues, told people to live in reverence of the Law of Moses, and he celebrated Jewish festivals.
As all other human beings, Jesus loved his own family. He will always love them, care fore them, and try to restore them. Even if they for whatever reasons there might be, do not know him. To hate and desert your own family is inhuman.
But Jesus was more than human. He was also fully God. He lived a life on Earth without sinning. This divine Son of God came down from Heaven, died on the cross for my sins, and you sins. He payed in full the perfect atonement for the sins of the whole World. With His divine Powers, he healed the sick, feed the hungry, set people free from demons, and rebuked the high and mighty religious leaders of his day. This Jesus from Nazareth rose from the dead. He defeated death, so that we can find peace with our creator. I am his servant.
What will Jesus be when He one day returns to Earth?
Revelation 5:5
Then one of the elders said to me, “Do not weep! See, the Lion of the tribe of Judah, the Root of David, has triumphed. He is able to open the scroll and its seven seals.”
Revelation 22:16
“I, Jesus, have sent my angel to give you this testimony for the churches. I am the Root and the Offspring of David, and the bright Morning Star.”
Please get ready for the return of «The offspring of King David, a great Jewish King that founded Jerusalem.
Is you reject His Jewishness, or harm his brothers and sisters in the flesh, you have been deceived by the Spirit of antichrist.
| Kasih Yesus : kasih sejati | 22.32 |
|
Filed under:
|
|
Inti ajaran Yesus ialah cinta kasih.
Tidak sekedar cinta, namun kasih yang tanpa syarat, bebas dari pamrih, dan tidak mementingkan diri sendiri.
Matius 5:38-42
5:38 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
5:39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
5:40 Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.
5:41 Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.
5:42 Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.
Yesus mengatakan bahwa Kasih adalah dasar dari seluruh hukum taurat dan kitab para nabi.
Matius 22:37-40
22:37 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
22:38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
22:39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
22:40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
Yesus tidak hanya mengajarkan kasih, tapi menerapkan kasih itu dalam seluruh pelayananNya selama di bumi :
1. Yesus dengan senang hati menyembuhkan orang sakit
Yesus menyembuhkan orang yang sakit kusta
Mat 8:2 Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.”
Mat 8:3 Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.
Yesus menyembuhkan hamba seorang perwira
Mat 8:5 Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya:
Mat 8:6 “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.”
Mat 8:7 Yesus berkata kepadanya: “Aku akan datang menyembuhkannya.”
Mat 8:8 Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.
Mat 8:9 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.”
Mat 8:10 Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.
Mat 8:11 Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga,
Mat 8:12 sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”
Mat 8:13 Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.
Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus
Mat 8:14 Setibanya di rumah Petrus, Yesuspun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam.
Mat 8:15 Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Iapun bangunlah dan melayani Dia.
Mat 8:16 Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit.
Mat 8:17 Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.”
dan masih banyak mujizat kesembuhan lain (dilakukan oleh Yesus) :
- Yesus menyembuhkan dua orang yang kerasukan (Matius 8:28–34)
- Yesus menyembuhkan orang lumpuh (Matius 9:1-8)
- Yesus menyembuhkan anak kepala rumah ibadat dan perempuan yang sakit pendarahan (Matius 9:18-26)
- Yesus menyembuhkan mata dua orang buta (Matius 9:27-31)
- Yesus menyembuhkan seorang bisu (Matius 9:32-34)
- Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat (Matius 12:9:15a)
- Yesus menyembuhkan orang-orang sakit di Genesaret (Matius 14:34-36)
- Yesus menyembuhkan banyak orang sakit (Matius 15:29-31)
- Yesus memberi makan empat ribu orang (Matius 15:32–39)
- Yesus menyembuhkan seorang anak muda yang sakit ayan
- Yesus menyembuhkan dua orang buta (Matius 20:29-34)
kisah mujizat kesembuhan lainnya (yang dilakukan oleh Yesus) juga dituliskan dalam kitab Markus, Lukas dan Yohanes.
2. Yesus membangkitkan orang mati
- Yesus membangkitkan anak Yairus (Lukas 8:40-56)
- Yesus membangkitkan Lazarus (Yohanes 11:1-44)
semua mujizat yang dilakukan Yesus bukan untuk maksud pamer, tapi semuanya berlandaskan atas kasihNya yang besar kepada umat manusia.
3. Yesus memberi makan orang yang kelaparan
Yesus memberi makan lima ribu orang (Matius 14:13–21)
Yesus memberi makan empat ribu orang (Matius 15:32–39)
4. Yesus mengampuni orang-orang yang membenciNya
Yesus menyembuhkan telinga orang yang hendak menangkapNya
Luk 22:49 Ketika mereka, yang bersama-sama dengan Yesus, melihat apa yang akan terjadi, berkatalah mereka: “Tuhan, mestikah kami menyerang mereka dengan pedang?”
Luk 22:50 Dan seorang dari mereka menyerang hamba Imam Besar sehingga putus telinga kanannya.
Luk 22:51 Tetapi Yesus berkata: “Sudahlah itu.” Lalu Ia menjamah telinga orang itu dan menyembuhkannya.
Pada saat itu, Yudas (yang menghianati Yesus) bersama dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata, datang hendak menangkap Yesus. Salah seorang murid (dari injil Yohanes, dijelaskan bahwa murid itu adalah Petrus – Yohanes 18:11), menghunuskan pedang dan memotong telinga salah seorang hamba imam besar (yang hendak menangkap Yesus). Sangka Petrus, dia harus membela Yesus dengan jalan menghunus pedang. Tapi Yesus memerintahkan Petrus untuk menghentikan niatnya.
Mat 26:52 Maka kata Yesus kepadanya: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Yesus kemudian menjamah (menyembuhkan) telinga hamba imam besar itu.
Luk 22:51 Tetapi Yesus berkata: “Sudahlah itu.” Lalu Ia menjamah telinga orang itu dan menyembuhkannya.
Yesus mengampuni orang-orang yang menyalibkan Dia
Luk 23:33 Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya.
Luk 23:34 Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
5. Yesus memberikan nyawanya sebagai tebusan bagi umat manusia
Kasih yang sesungguhnya teramat besar ditunjukkanNya ketika Dia menyerahkan nyawaNya bagi umat manusia.- “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik. Memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yohanes 10:1-42)
“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:45)
| Kamu adalah garam dunia | 22.15 |
|
Filed under:
|
|

Mg Biasa V: Yes 58:7-10; 1Kor 2:1-5; Mat 5:13-16. “Small is beautiful” = Kecil itu indah
“Small is beautiful” = Kecil itu indah, demikian kata sebuah pepatah. Pada masa kini aneka macam sarana-prasarana teknologi semakin kecil bentuknya, dan yang kecil tersebut sungguh menentukan, misalnya serat optic yang berfungsi untuk melancarkan komunikasi melalui anek macam sarana komunikasi seperti HP dan internet. Pohon besar yang rindang berasal dari biji kecil, yang tumbuh dan berkembang pelan-pelan serta meyakinkan. Anak-anak kecil mungkin kurang diperhitungkan dalam percaturan hidup bersama di tengah masyarakat, namun ketika anak kecil pergi tanpa diketahui kemana atau dimana, maka orangtua dengan susah payah dan kerja keras mencarinya, sedangkan ketika yang pergi anak besar atau orang dewasa dibiarkan saja. Bercermin dari pengalaman tersebut para penjahat sering menggunakan anak kecil sebagai sandra untuk memaksa orangtua atau keluarganya menebus dengan jumlah uang yang cukup besar. Warta gembira hari ini mengingatkan kita semua sebagai umat beriman yang sungguh benar alias hidup jujur dan berbudi pekerti luhur, meskipun secara nominal jumlahnya kecil hendaknya tidak takut dan gentar. Maka marilah kita renungkan sabda Yesus hari ini sebagai pedoman atau acuan cara hidup dan cara bertindak kita.
“Kamu adalah garam dunia.” (Mat 5:13)
Makanan atau masakan tanpa garam hambar rasanya dan kurang nikmat. Garam memang berfungsi untuk membuat makanan atau masakan menjadi enak dan nikmat, tentu saja dalam jumlah yang sesuai artinya tidak terlalu sedikit atau terlalu banyak alias harus persis sebagaimana dibutuhkan. Yesus bersabda kepada kita semua yang percaya kepadaNya bahwa “Kamu adalah garam dunia”. Sabda ini mengajak dan mengingatkan kita semua agar kehadiran atau sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun senantiasa membuat lingkungan hidup bersama menjadi menarik, memikat dan mempesona alias siapapun yang ada dalam kebersamaan hidup tersebut merasa kerasan dan bahagia.
Dalam makanan atau masakan garam yang dibutuhkan memang hanya sedikit atau kecil sekali, maka baiklah meskipun kita kecil atau sendirian hendaknya tetap setia pada tugas dan penggilan untuk tetap berarti atau bermakna dalam lingkungan hidup. Maksudnya jika saya sebagai orang Kristen atau Katolik hanya sendirian saja di tempat tinggal atau masyarakat atau tempat kerja hendaknya tidak takut dan gentar dan setia pada iman kepercayaannya. Yang penting dan utama adalah cara hidup dan cara bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan atau janji-janji yang pernah diikrarkan, seperti janji baptis, janji perkawinan, janji kepegawaian dst…
Selain menjadi ‘garam dunia’ kita juga dipanggil untuk menjadi ‘terang dunia’. Sumber sinar terang juga kecil, namun begitu berfungsi sangat membantu dalam penerangan. Menjadi ‘terang dunia’ antara lain berarti bahwa sepak terjang dan kehadiran kita dimanapun dan kapanpun senantiasa membuat terang benderang hidup bersama, artinya masing-masing semakin hidup dan bertindak sesuai dengan panggilan dan tugas pengutusannya. Kehadiran dan sepak terjang kita membuat saudara-saudari atau sesama kita semakin fungsional dalam keselamatan hidup bersama.
Menjadi ‘terang dunia’ juga dapat menjadi menjadi ‘facilitator’, dimana kehadiran dan sepak terjang kita senantiasa menjadi panutan atau teladan dalam cara hidup dan cara kerja. Mereka yang melihat dan hidup atau bekerja bersama dengan kita merasa dipermudah dan diperlancar dalam melaksanakan tugas pengutusan atau kewajibannya. Dengan kata lain ‘orang pandai sejati’ berarti dapat membuat apa yang sulit dan berbelit-belit menjadi sederhana sehingga dapat diketahui dan difahami oleh semua atau banyak orang. Menjadi ‘terang dunia’ juga berarti hidup dan bertindak dengan terang-terangan alias tidak ada kebohongan, manipulasi atau kepalsuan sedikitpun alias ‘telanjang’, tiada yang disembunyikan sedikitpun. Orang yang demikian berarti hidup jujur, disiplin, teratur, sederhana dan hati maupun budinya senantiasa terbuka terhadap yang lain atau seaamanya, lebih-lebih atau terutama terbuka pada Penyelenggaraan Ilahi. Maka baiklah kita renungkan apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Korintus di bawah ini. .
“Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah” (1Kor 2:3-5)
Datang dan hadir dalam kelemahan diri dan kekuatan Roh itulah yang dihayati oleh Paulus dan diharapkan dari kita semua, orang beriman, juga demikian adanya. Sebagai orang beriman kita diharapkan tidak mengandalak kekuatan dan hikmat manusia, melainkan kekuatan Roh atau hikmat ilahi. Roh hidup dan berkarya dalam seluruh ciptaan Allah, terutama dalam diri manusia, gambar dan citra Allah, manusia yang berkehendak baik tanpa pandang bulu atau SARA. Maka dalam kelemahan diri dan kekuatan Roh berarti senantiasa membuka diri terhadap siapapun yang berkehendak baik alias siap sedia untuk hidup dan bekerja bersama-sama atau bergotong-royong. Sendirian saja kita tak mungkin berbuat apa-apa.
Rekan-rekan yang hidup berkeluarga sebagai suami-isteri serta telah dianugerahi anak oleh Allah kiranya dapat mawas diri apa arti dan makna bekerjasama atau bergotong-royong . Bukankah anda berdua telah bekerjasama atau bergotong-royong dalam keterbukaan atau ketelanjangan untuk berpartisipasi dalam karya penciptaan atau Penyelenggaraan Ilahi, ketika anda berdua sedang berkasih mesra dalam hubungan seksual? Ada suami-isteri telah bertahun-tahun hidup bersama dan secara rutin berhubungan seks tetapi tidak dianugerahi anak, dan dengan demikian mereka menyadari dan menghayati tak mungkin hanya mengandalkan yang manusiawi saja tetapi harus mengandalkan diri pada Yang Ilahi. Anak adalah anugerah Allah, maka hendaknya suami-isteri merenungkan dan menghayati kesaksian Paulus ini: “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan” (1Kor 3:6)
The last but not the least, marilah sebagai ‘garam dan terang dunia’ kita hayati ajakan Yesaya ini, yaitu “supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!”(Yes 58:7). Menjadi ‘garam dan terang dunia’ harus menjadi konkret dalam kepedulian terhadap sesama manusia, terutama mereka yang miskin dan berkekurangan, yang lapar dan telanjang tak punya pakaian. Iman tanpa penghayatan konkret dalam kepedulian terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan tiada artinya alias mereka yang tidak peduli terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan hambar hidupnya bagi masyarakat dan lingkungan hidupnya.
“Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil. Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya. Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya. Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN.”
(Mzm 112:4-7)
